KONTEKS SOSIAL DAN KULTURAL
Pada hari rabu tanggal 23 oktober 2024, mahasiswa semester
3 dari program studi manajemen dakwah fakultas dakwah dan ilmu komunikasi
universitas syarif hidayatullah jakarta. yang terdiri dari 4 kelas yaitu dari
kelas MD 3A, MD 3B, MD 3C, MD 3D, melaksanakan kegiatan perkuliahan di teater
lantai 6 gedung fakultas dakwah dan ilmu komunikasi. yakni belajar mengenai
mata kuliah Filsafat Dakwah, yang diajarkan oleh Bapak Drs. Study Rizal LK,
M. selaku dosen pengampu mata kuliah filsafat dakwah dan materi yang
dipaparkan oleh kelompok 6 dari masing - masing kelas, mengenai sub bab materi
yang dibahas yaitu :
“Konteks
Sosial dan Kultural”
A. Mengidentifikasi
tentang pengaruh konteks sosial dan budaya terhadap dakwah
B. Menganalisis
konteks sosial dari perspektif keilmuan dakwah
Tanggapan
materi yang dibahas:
A.
Mengidentifikasi tentang pengaruh
konteks sosial dan budaya terhadap dakwah
Karena sifat sosial mereka,
manusia tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan orang lain, yang
memungkinkan mereka hidup dalam masyarakat. Namun, masalah sosial atau kelompok
berbeda dengan masalah individual dalam kehidupan bermasyarakat; keduanya
saling berkaitan karena masalah sosial atau kelompok pada dasarnya merupakan
akumulasi dari masalah individu, sementara kelompok pada hakikatnya merupakan
ketetapan Allah SWT yang diterapkan pada manusia. Ini menghasilkan pola hidup
kelompok.
Berikut merupakan konteks sosial
dan budaya yang mempengaruhi dakwah:
1. Adaptasi dengan konteks sosial
Menurut filsafat dakwah, konteks sosial dan budaya
sangat penting untuk komunikasi yang efektif. Adaptasi adalah proses
penyesuaian diri akan lingkungan fisik dan sosial, yang dapat dicapai melalui
komunikasi yang baik dan efektif. Dakwah harus sesuai dengan berbagai aspek
masyarakat, seperti status sosial, budaya, dan ekonomi. Oleh karena itu, materi
dakwah harus disesuaikan dengan keadaan masyarakat sehingga dapat diterima dan
dipahami.
Ini juga merupakan cara untuk
meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ajaran agama. Setiap kegiatan dakwah
harus melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat untuk membantu mendalami
ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan menghasilkan perubahan
sosial yang baik.
2.
Resepsi budaya
Maksud dari resepsi budaya dalam dakwah adalah
proses di mana masyarakat menerima pesan dakwah. Dengan mempertimbangkan budaya
dan pengalaman hidup setiap orang, setiap masyarakat memiliki hak untuk
menginterpretasikan pesan dakwah dengan cara yang mereka inginkan. Memanfaatkan
seni dan budaya sebagai media, menemukan prinsip positif dalam budaya lokal
yang terintegrasi dalam agama, dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh
masyarakat adalah semua cara yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan ini.
Resepsi budaya ini bertujuan untuk menyampaikan
ajaran agama dengan memanfaatkan konteks budaya, seperti menggunakan
simbol-simbol, nilai-nilai, dan bahasa yang dapat diterima dan dipahami oleh Masyarakat
3.
Komunikasi efektif
Menurut filsafat dakwah, konteks sosial dan budaya
penting untuk komunikasi yang efektif. Penyampaian pesan dakwah yang efektif
dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat dengan cara yang mudah dipahami
dan difahami. Oleh karena itu, sangat penting bagi da'I untuk memahami
demografi, latar belakang, dan kebutuhan audiensnya. Untuk komunikasi yang
efektif, perlu ada strategi komunikasi. Strategi ini mencakup pemilihan
pendekatan, metode, dan media.
4. Integrasi nilai-nilai agama
dengan budaya local
Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk
menyampaikan ajaran agama dengan cara yang lebih efektif dan dapat diterima
oleh masyarakat. Pendekatan ini dikenal sebagai integrasi nilai-nilai agama
dengan budaya lokal. Oleh karena itu, hali ini adalah proses penggabungan
nilai-nilai agama dengan nilai-nilai budaya lokal. Tujuan integrasi ini adalah
untuk meningkatkan pemahaman orang tentang ajaran agama dan mempertahankan
kearifan lokal. Karena masyarakat dapat menerapkan prinsip agama tanpa
menghilangkan identitas budaya mereka, hal ini bermanfaat untuk harmonisasi
agama dan budaya. Selain itu, karena ajaran agama menghargai dan melestarikan
budaya lokal, hal ini dapat menguatkan komunitas.
5. Tranformasi positif
Dalam dakwah, transformasi positif didefinisikan
sebagai perubahan yang membawa manfaat dan perbaikan kepada masyarakat melalui
ajaran agama. Sehingga dakwah transformatif dapat menawarkan solusi untuk
masalah masyarakat saat ini, dakwah transformatif mencakup bidang keagamaan,
sosial, ekonomi, budaya, politik, teknologi, dan kesehatan. Untuk mendapatkan
dukungan dan partisipasi masyarakat, dakwah transformatif biasanya menggunakan
pendekatan yang inspiratif dan motivasional. Salah satu contohnya adalah kegiatan
majelis taklim, yang dapat menjadi platform bagi masyarakat untuk melakukan
hal-hal positif karena mereka belum terinspirasi dan termotivasi untuk
melakukannya.
Dakwah harus menjadi fleksibel
dan responsif terhadap perubahan zaman karena era digital semakin berkembang.
Penting untuk menggunakan teknologi informasi dan media untuk memperluas relasi
dan meningkatkan dakwah. Dakwah transformatif menekankan betapa pentingnya
menyediakan solusi untuk masalah kependudukan seperti stunting, kemistikinan,
dan ketidakadilan. Ini membantu masyarakat memahami betapa pentingnya
menerapkan ajaran agama untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas hidup
mereka dan menagani masalah sosial. Nabi Muhammad SAW adalah inspirasi utama
dakwah transformatif.
B.
Menganalisis konteks sosial dari perspektif
keilmuan dakwah
1. Apa
yang dimaksud dengan dakwah dalam konteks sosial?
Dalam konteks sosial, dakwah memiliki makna yang
luas, termasuk pembinaan akhlak, pemberdayaan masyarakat, penyebaran ajaran
Islam, dan pembentukan kesadaran kolektif untuk memperkuat struktur sosial
Islami. Dakwah juga bertujuan untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah
kemungkaran.
2. Siapa saja yang berperan dalam
dakwah sosial?
Dakwah dalam konteks sosial tidak hanya dilakukan
oleh para ulama, dai, atau pemuka agama; itu juga dapat dilakukan oleh
masyarakat secara keseluruhan, termasuk pemimpin komunitas, lembaga sosial, dan
orang Muslim yang sadar akan tujuan menyebarkan kebaikan. Keluarga, teman, dan
tokoh masyarakat memainkan peran penting dalam memahami dan menerapkan
nilai-nilai Islam.
3. Kapan dakwah sosial dilaksanakan?
Dakwah sosial seharusnya dilakukan secara
terus-menerus dan tidak terbatas pada waktu tertentu. Dalam beberapa waktu,
seperti hari-hari besar Islam (seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi),
atau situasi penting (seperti bencana alam dan konflik sosial), adalah bijak
untuk meningkatkan dakwah. Selain itu, dakwah dapat disampaikan kapan saja
melalui interaksi sehari-hari, kehidupan sehari-hari, dan kegiatan masyarakat.
4. Di mana dakwah sosial
berlangsung?
Dakwah sosial dapat terjadi di berbagai tempat,
seperti masjid, sekolah, lingkungan kerja, media massa, dan media sosial. Ruang
publik dan platform digital seperti Instagram, facebook, tiktok, kontemporer
kini menjadi sarana penting dalam dakwah karena memungkinkan penyampaian pesan
yang lebih luas dan fleksibel, terutama kepada generasi muda yang aktif di
dunia maya.
5. Mengapa dakwah sosial penting?
Untuk membangun masyarakat yang lebih religius,
berakhlak, dan harmonis, dakwah sangat penting. Dalam menangani masalah moral,
konflik, dan degradasi akhlak, ia berfungsi sebagai kontrol sosial. Diharapkan
melalui dakwah masyarakat dapat menghindari tindakan yang merugikan dan menjadi
lebih peka terhadap nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial.
6. Bagaimana dakwah sosial
dilakukan?
Dakwah sosial bisa dilaksanakan melalui berbagai
metode, seperti ceramah, diskusi, kajian, program pemberdayaan, kegiatan
sosial, serta melalui media publikasi. Pendekatan yang persuasif, edukatif, dan
melibatkan partisipasi masyarakat sangatlah penting agar pesan dakwah lebih
mudah dipahami dan diterima. Penggunaan bahasa yang sederhana, pendekatan yang
penuh empati, serta partisipasi aktif dari masyarakat dalam kegiatan dakwah
merupakan cara efektif untuk mencapai tujuan dakwah dalam ranah sosial.
Memahami dan mengamalkan ajaran
Islam dalam berbagai konteks sosial dan kultural sangat dipengaruhi oleh
filosofi dakwah. Cara dakwah disebarkan dan diterima oleh masyarakat, terutama
dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, dipengaruhi oleh konteks sosial dan
budaya. Dakwah tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan; itu juga adalah proses
berinteraksi yang mempertimbangkan kebiasaan dan prinsip masyarakat. Kemampuan
untuk memahami berbagai faktor yang mempengaruhi penerimaan pesan Dakwah adalah
penting untuk memahami konteks sosial dan budaya dalam filsafat Dakwah. Ini
termasuk memahami sistem sosial yang ada, tradisi lokal, dan perubahan budaya. Dengan
demikian, dakwah dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih sesuai dan
berhasil dan sesuai dengan konteks masyarakat sasaran. Selain itu, filsafat
dakwah menekankan betapa pentingnya pendekatan budaya dalam menyampaikan
risalah Islam. Pendekatan ini bertujuan untuk menghubungkan ajaran Islam dengan
budaya lokal, memastikan bahwa pesan dakwah diterima secara luas dan tidak
terkesan asing bagi masyarakat lokal. Dakwah dapat menjadi alat untuk membangun
diskusi dan pemahaman budaya serta memperkuat nilai-nilai universal Islam
dengan mempertimbangkan konteks sosial budaya.
konteks sosial dan budaya mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
strategi dan metodologi dakwah, menjadikan dakwah lebih mudah beradaptasi dan
relevan dalam menjawab tantangan zaman dan keberagaman masyarakat.
PENULIS
RIFKY ALHAMDI
MAHASISWA MANAJEMEN DAKWAH 2023
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Komentar
Posting Komentar