ETIKA DAN MORALITAS
Pada
hari rabu tanggal 16 oktober 2024, mahasiswa semester 3 dari program studi
manajemen dakwah fakultas dakwah dan ilmu komunikasi universitas syarif
hidayatullah jakarta. yang terdiri dari 4 kelas yaitu dari kelas MD 3A, MD 3B,
MD 3C, MD 3D, melaksanakan kegiatan perkuliahan di teater lantai 6 gedung
fakultas dakwah dan ilmu komunikasi. yakni belajar mengenai mata kuliah
Filsafat Dakwah, yang diajarkan oleh Bapak Drs. Study Rizal LK, M. selaku
dosen pengampu mata kuliah filsafat dakwah dan materi yang dipaparkan oleh
kelompok 5 dari masing - masing kelas, mengenai sub bab materi yang dibahas
yaitu :
Etika dan moralitas
A.
Etika dakwah dalam konteks keilmuan
B.
Implikasi moral dan etis dalam teori dan praktik dakwah
Tanggapan mengenai materi yang dibahas:
A.
Etika dakwah dalam konteks keilmuan
Etika berasal dari bahasa Yunani,
ethos (satu kata) atau ta etha (banyak kata). Ethos berarti tempat tinggal,
padang rumput, kandang, adat, kebiasaan, akhlak, watak, perasaan, sikap, dan
cara berpikir, sementara ta ethos berarti adat kebiasaan dalam bentu jamak.
Oleh karena itu, etika dapat didefinisikan sebagai bertindak berdasarkan
moralitas, mengikuti standar moral yang berlaku dalam masyarakat tertentu, atau
menyesuaikan tindakan dengan standar perilaku yang berlaku dalam suatu profesi.
Selain
berhubungan dengan hal-hal baik atau buruk, benar atau salah, etika adalah jiwa
atau semangat yang menyertai suatu tindakan. Oleh karena itu, etika membantu
seseorang berperilaku dengan baik agar tidak menimbulkan keresahan dan membuat
orang lain percaya bahwa tindakan mereka memenuhi standar etika. dalam konteks
keilmuan, etika dakwah mengacu pada prinsip-prinsip profesional dan moral yang
harus dipatuhi oleh para pendakwah saat menyampaikan ajaran agama. Dalam
konteks ini, dakwah bukan hanya tentang menyebarkan ajaran agama, tetapi juga
tentang bagaimana pesan tersebut disampaikan dengan cara yang bertanggung
jawab, beretika, dan sesuai dengan nilai-nilai keilmuan.
Beberapa poin
penting terkait etika dakwah dlam konteks keilmuan:
·
Mengutamakan kebenaran ilmiah
Untuk menghindari penyebaran informasi yang salah
atau bahkan hoaks, pendakwah harus memiliki landasan keilmuan yang kuat sebelum
menyampaikan dakwah mereka, sehingga pesan yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan
·
Metode penyampaian
yang bijaksana
Seperti yang disarankan dalam Al-Qur'an (QS.
An-Nahl: 125), dakwah yang baik harus dilakukan dengan cara yang penuh hikmah
dan bijaksana. Ini berarti menggunakan bahasa yang sopan, mudah dipahami, dan
relevan dengan konteks audiens. Agar dakwah dapat diterima dengan baik, metode
yang digunakan harus disesuaikan dengan latar belakang dan tingkat pemahaman
mad`u nya
·
Menjaga akhlak
dan etika
Seorang da'I harus menunjukkan contoh dalam
kehidupan sehari-hari. Tanpa moral yang baik, tidak ada artinya memiliki
keilmuan yang tinggi. Agar dakwah diterima dengan baik oleh masyarakat,
diperlukan etika dalam berbicara, berinteraksi, dan menjaga integritas moral.
B. Implikasi moral dan etis dalam teori
dan praktik keilmuan dakwah
·
Apa yang menjadi penerapan implikasi moral dan etis?
Faktor-faktor moral dan etis yang berkaitan dengan
teori dan praktik keilmuan dakwah berkaitan dengan cara dakwah dilakukan dan
dijalankan. Ini mencakup komitmen untuk menyampaikan ajaran agama dengan benar,
menghindari penyebaran informasi palsu, dan mempertahankan sikap dan perilaku
yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan agama
·
Siapa saja yang terlibat dalam penerapan moral dan etis?
Ada tanggung jawab moral dan etis bagi semua orang
yang terlibat dalam dakwah, termasuk pendakwah, ulama, cendekiawan agama, serta
institusi pendidikan dan lembaga dakwah. Orang-orang yang mendengarkan dakwah,
atau komunitas, juga berperan dalam memahami pesan dan menginternalisasinya
sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan.
·
Kapan implikasi moral dan etis dilakukan?
Dakwah memiliki konsekuensi moral dan etis setiap
kali dilakukan, baik dalam konteks formal (misalnya, seminar, penelitian),
maupun informal (misalnya, percakapan sehari-hari). Ini juga berlaku ketika
dakwah disebarkan melalui media digital dan sosial, di mana perlu diperhatikan
penyampaian informasi yang benar dan etis.
·
Dimana saja implikasi ini diterapkan?
Ini berlaku di mana dakwah dilakukan, seperti di
masjid, sekolah, media sosial, dan forum publik lainnya. Lokasi dakwah dapat
memengaruhi pendekatan dan metode yang digunakan, serta kewajiban moral untuk
menyesuaikan penyampaian dengan konteks dan para pendengar nya atau mad`u nya.
·
Mengapa moral dan etis ini penting dalam keilmuan dakwah?
Untuk menjamin bahwa ajaran agama disampaikan
dengan benar, tidak menimbulkan perpecahan, dan mendorong kedamaian dan
persatuan, penting bagi dakwah etika dan moral. Dakwah yang beretika membantu
menjaga kredibilitas agama dan pendakwah serta mencegah penyalahgunaan ajaran
agama untuk kepentingan pribadi.
·
Bagaimana metode ini dapat dilakukan?
Dakwah harus dilakukan dengan cara yang bijaksana,
penuh hikmah, dan menggunakan argumen yang rasional dan mudah dipahami.
Pendekatan ini harus menghormati perbedaan, tidak memaksakan keyakinan orang
lain, dan memperhatikan sensitivitas sosial dan budaya. Selain itu, pendekatan
ini harus mencakup penggunaan sumber yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan
untuk menyampaikan ajaran.
a. implikasi etis dalam teori dakwah
Dalam teori dakwah, implikasi etis berkaitan dengan
bagaimana konsep-konsep dakwah dibangun berdasarkan prinsip-prinsip etika Islam
yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Beberapa implikasi etis dalam
teori dakwah, diantaranya yaitu :
Ø Tanggung jawab menyampaikan
Ø Niat yang lurus dan bersih
Ø Menghormati keberagaman pendapat
Ø Keadilan dan objektivitas
Sedangkan dalam praktik dakwah, implikasi etis sangat erat
kaitannya dengan bagaimana dakwah dilaksanakan secara langsung dalam kehidupan
sehari-hari. Beberapa aspek penting dari implikasi etis dalam praktik dakwah,
diantaranya :
Ø Metode yang bijak dan santun
Ø Tidak memanfaatkan kelemahan orang lain
Ø Kerjasama dan kolaborasi
Ø Menghindari politisasi dan manipulasi agama
Ø Konsistensi antara ucapan dan tindakan
Ø Menghindari diskriminasi
Faktor-faktor etis yang terkandung dalam teori dan praktik dakwah ini sangat penting untuk menjaga dakwah tetap murni dan mencegah penyalahgunaan ajaran Islam. Seorang pendakwah harus memahami bahwa dakwah bukan hanya menyampaikan ajaran agama; itu juga melibatkan tanggung jawab moral terhadap masyarakat, umat, dan Tuhan. Untuk menghindari konflik, fitnah, atau penyalahgunaan agama, dakwah harus dilakukan dengan cara yang bijak, adil, dan penuh kasih sayang.
Penulis:
Rifky Alhamdi
Mahasiswa Manajemen Dakwah 2023
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Komentar
Posting Komentar